Kamis, 17 Oktober 2013

EMOSI DAN MOOD

WHAT ARE EMOTIONAL AND MOODS?
Untuk memahami apa itu emosi dan mood, maka kita perlu mengklarifikasi tentang affect, emotion dan moods. Affect merupakan suatu istilah umum yang melingkupi suatu lingkup wilayah perasaan yang orang-orang alami (dapat dialami dalam bentuk emosi atau mood),emotions adalah suatu perasaan yang kuat yang diarahkan pada seseorang / sesuatu, danmoods adalah suatu perasaan yang tidak sekuat seperti emosi dan seringkali (walaupun tidak selalu) tidak memiliki stimulus yang jelas. Emosi dan mood dapat saling berinteraksi, emosi dapat berubah menjadi mood ketika emosi kehilangan fokus terhadap kejadian atau benda yang memulai perasaan dan baik atau buruknya mood bisa membuatmu lebih emosional dalam merespon dari suatu kejadian. Walaupun emosi dan mood dapat saling berinteraksi tetapi ada perbedaan pada keduanya

 Emosi
Disebabkan  karena adanya kejadian yang spesifik
Hanya berlangsung sebentar (dalam beberapa menit atau detik)
Secara alami, berorientasi kepada tindakan
Biasanya didampingi dengan expresi wajah yang berbeda
Secara alami, spesifik dan bervariasi
Mood
Penyebabnya seringkali tidak jelas dan merupakan hal-hal yang umum
Lebih lama dibandingkan dengan emosi (dalam jam atau hari)
Secara alami, lebih ke kognitif
Secara umum tidak diindikasikan dengan perbedaan ekspresi
Lebih umum
A basic set of emotion
Emosi memiliki banyak variasi, baik itu berupa rasa marah, iri, benci, bangga, cinta, kebahagiaan, dan lain-lain. Peneliti mencoba untuk mengidentifikasi dasar-dasar emosi dengan mempelajari ekspresi wajah, tetapi mengalami kesulitan karena emosi terlalu kompleks untuk diwakilkan dengan ekspresi wajah. Oleh para peneliti membaginya menjadi 6 emosi essensial yang universal, yaitu rasa marah, takut, sedih, bahagia, jijik, dan terkejut dimana emosi lainnya digolongkan kedalam 1 dari 6 kategori tersebut.

Some aspects of emotions
The Biology of Emotion
Semua emosi diorganisasikan oleh system limbic di dalam otak, yang cuma sebesar walnut dan dekat dengan brain stem. Secara keseluruhan limbic system menyediakan suatu lensa pemikiran untuk menginterpretasikan sesuatu. Ketika hal tersebut menjadi aktif, maka individu akan melihat sesuatu melalui sudut pandang yang negatif; begitu pula sebaliknya, ketika limbic system menjadi tidak aktif maka individu akan melihat sesuatu melalui sudut pandang yang lebih positif. Satu orang dengan satu orang yang lain mempunyai limbic system yang berbeda, sebagai contoh perempuan memiliki kecenderungan mempunyai limbic system yang lebih aktif dibandingkan dengan laki-laki oleh karena itu perempuan lebih mudah untuk depresi dibandingkan dengan laki-laki. Tetapi hal tersebut bukan berarti bahwa semua orang yang depresi adalah perempuan.

Intensity
Setiap orang memiliki intensitas dalam mengekspresikan emosi yang berbeda satu dengan yang lainnya; begitu pula dalam merespon stimulus provokasi emosi yang identik. Ada orang yang hampir tidak pernah menunjukkan perasaannya, tetapi ada juga orang yang sangat emosional. Perbedaan tersebut disebabkan karena kepribadian dan juga karena hasil dari job requirement.

Frequency and Duration
Pekerja bisa secara sukses menjumpai tuntutan emosional dari sang pemberi tugas tergantung tidak hanya dari kebutuhan emosional yang harus ditunjukkan dan intensitasnya tetapi juga seberapa sering dan seberapa lama yang mereka butuhkan untuk membuat usaha.

Do Emotions Make Us Irrational?
Berdasarkan pada kasus Phineas Gage yang mengalami cedera otak sehingga tidak memiliki emosi menjadikannya tidak dapat berpikir secara rasional. Emosi menjadikan seseorang untuk berpikir lebih rasional karena emosi kita menyediakan informasi penting tentang bangaimana kita memahami dunia di sekitar kita. Oleh karena itu, kita perlu punya kemampuan untuk mengalami emosi untuk menjadi rasional. Manusia tanpa emosi tidak akan bekerja / berfungsi sebagaimana mestiya karena manusia bukanlah komputer. Tetapi, ada penelitian lain yang menyatakan bahwa emosi dapat membuat seseorang untuk berpikir rasional, salah satunya adalah Lois Frankel yang menyatakan bahwa lebih baik perempuan tidak menunjukkan emosinya karena akan melemahkan pandangan  orang lain dalam mengukur kompetensinya. Maka dari itu, kunci untuk mendapatkan keputusan yang baik adalah dengan menjadikan pemikiran dan perasaan menjadi satu keputusan.

What Functions Do Emotions Serve?
Menurut Charles Darwin beranggapan bahwa “emosi berkembang dari waktu ke waktu untuk membantu manusia dalam menyelesaikan masalahnya. (…) emosi juga memotivasi orang untuk memulai tindakan penting untuk bertahan hidup, seperti mencari perlindungan, memilih pasangan, bertahan dari para predator, dan lain-lain.” Emosi memiliki tujuan dan emosi tersebut ada untuk melakukan sesuai dengan tujuannya tersebut, sebagai contoh rasa marah, walaupun kita berpikir bahwa rasa marah adalah sesuatu yang buruk, tetapi hal tersebut bisa melindungi hak-hak kita ketika hak-hak kita itu sedang di ”siksa”.

Mood as positive and negative affect
Positive affect: suatu dimensi mood yang di dalamnya terdapat emosi positif yang spesifik seperti kegairahan, keceriaan, dan kepercayaan diri di puncak akhir dan kebosanan, dan kelambanan di rendah akhir.
Negative affect: suatu dimensi mood yang di dalamnya terdapat kecemasan, stress dan kegugupan di puncak akhir dan relaksasi, kedamaian dan keseimbangan di rendah akhir.
Positive affect dan negative affect bermain dalam hal pekerjaan yang mewarnai persepsi dan persepsi tersebut menjadi kenyataan bagi mereka sendiri. Tetapi, orang-orang memikirkan kejadian yang menciptakan emosi negatif yang kuat sebanyak 5 kali sama panjang dengan memikirkan kejadian yang menciptakan emosi positif yang kuat sebanyak 1 kali. Sebagai salah satu contoh jika dikaitkan dengan rewards maka, Individu dengan tingkat PA rendah tidak akan segera merespon secara positif tingkat rewards yang rendah. Individu dengan tingkat PA tinggi atau rendah akan lebih terpuasakan dengan tingkat rewards yang tinggi dibandingkan dengan tingkat rewards yang rendah (shaw, duffy, Jenkins & gupta, 1999).

Source of emotions and moods
Personality
Kepribadian mempengaruhi setiap orang untuk mengalami mood dan emosi tertentu, sebagai contoh beberapa merasa bersalah dan marah dalam keadaan yang lebih siap dibandingkan dengan yang lain. Kebanyakan orang telah membangun kecenderungan untuk mengalami beberapa mood dan emosi lebih sering dibandingkan dengan orang lain. Beberapa orang juga memiliki kecenderungan untuk mengalami emosi apapun dengan lebih kuat, orang-orang tersebut disebut sebagai affect intensity: perbedaan individu dalam kekuatan emosi yang dialami oleh oleh individu. Kejadian-kejadian yang positif yang terjadi dapat mempengaruhi mood untuk menjadi positif dan ber-emosi positif untuk terbuka; begitu pula kejadian-kejadian negatif yang dapat mempengaruhi mood untuk menjadi negatif dan ber-emosi negatif bagi mereka yang memiliki nilai rendah pada stabilitas emosional.

Day of the week and time of the day
Orang-orang memiliki kecenderungan berada pada mood yang terburuk saat berada pada awal minggu dan dalam mood yang terbaik ketika berada di akhir minggu. Mengapa hal tersebut terjadi? Hal ini dikarenakan ketika berada di awal minggu, orang-orang akan mulai berkerja/sekolah dan di akhir minggu, orang-orang akan mulai berhenti bekerja di akhir minggu. Begitu pula ketika seseorang akan memulai 1 harinya, mereka akan memulai hari dengan keadaan yang tidak semangat, dan pada pertengahan hari, mood kita menjadi meningkat dan menurun pada sore hari.

Weather
Cuaca memiliki efek yang kecil untuk mempengaruhi mood. Kesimpulan dari seorang ahli yang menyatakan bahwa “kebalikkan dengan sudut pandang budaya secara umum, data-data ini mengindikasikan bahwa orang-orang tidak melaporkan mood yang lebih baik pada hari yang cerah dan bercahaya.” Kejadian tersebut disebut dengan illusory correlation: kecenderungan orang untuk mengasosiasikan 2 kejadian walaupun dalam kenyataannya tidak ada koneksi antara keduanya.

Stress
Stres mempengaruhi emosi dan mood, dan efek dari stress bertambah tiap waktunya. Ketika stress tersebut sudah menjadi besar dapat memperburuk mood dan akan lebih mengalami emosi negatif.

Social activities
Untuk beberapa orang, aktivitas sosial meningkatkan mood yang positif dan memiliki sedikit efek terhadap mood yang negatif. Peneliti menyarankan bahwa kegiatan-kegiatan fisik, informal, atau epicurenberasosiasi kuat dengan pertambahan mood yang positif dibandingkan dengan kegiatan-kegiatan formal atau kegiatan-kegiatan yang menetap.

Sleep
Kualitas tidur seseorang juga dapat mempengaruhi mood seseorang. Ketika seseorang kekurangan kualitas tidur, menempatkan dirinya kedalam mood yang buruk karena hal tersebut merusak pengambilan keputusan dan membuat sulit dalam mengontrol emosi.

Exercise
Peneliti secara konsisten menunjukkan bahwa latihan memperkuat mood positif orang-orang. Efek terapi dari latihan paling kuat didapat bagi mereka yang mengalami depresi. Walaupun efek dari latihan konsisten, tetapi tidak terlalu kuat.

Age
Suatu penelitian pada orang yang berusia 18 – 94 tahun, menunjukkan bahwa emosi negatif semakin berkurang muncul ketika orang menjadi tua. Jangka waktu pada mood positif lebih lama ada pada orang yang lebih tua dan mood yang buruk lebih cepat hilang. Dan pada orang yang lebih tua mengalami lebih sedikit emosi negatif.

Gender
Adanya bukti-bukti yang menunjukkan bahwa ada perbedaan antara perempuan dan laki-laki dalam hal reaksi emosional dan kemampuan dalam membaca orang lain. Perempuan lebih hebat dalam menunjukkan ekspresi emosionalnya dibandingkan dengan laki-laki. Mereka mengekspresikan emosi lebih kuat; dan mereka lebih sering mengekspresikan emosi baik itu emosi positif maupun negatif, kecuali rasa marah. Perempuan juga melaporkan lebih nyaman dalam mengekspresikan emosi. Perempuan juga lebih baik dalam membaca tanda-tanda nonverbal dan paralinguistic dibandingkan dengan laki-laki. Mengapa hal tersebut bisa terjadi? Peneliti menyatakan 3 kemungkinan. Pertama, cara laki-laki dan perempuan disosialisasikan, jika laki-laki diajarkan untuk menjadi berani dan kuat maka sebaliknya pada perempuan yang diajarkan untuk bisa mengasuh / memelihara.

External constraints on emotions
Organizational influence
Ekspresi dari emosi yang kuat yang apapun itu, baik negatif maupun positif, cenderung untuk tidak dapat diterima karena pihak management menganggap bahwa emosi-emosi tersebut dapat merusak performa dari tugas-tugas rutin yang ada.

Cultural influence
Tingkat orang mengalami emosi berbeda antara satu orang dengan orang yang lain. Secara umum, orang-orang dalam kebanyakan budaya tampil untuk mengalami emosi positif dan negatif tertentu, tetapi frekuensi dari pengalaman dan intensitas, berbeda satu dengan yang lain. Orang-orang dari berbagai daerah dan wilayah memiliki pandangan yang sama dalam menginterpretasikan emosi baik itu positif maupun negatif. Norma yang berlaku dalam setiap daerah mempengaruhi pengekspresian emosi pada setiap orang. Di negara-negara yang kolektif, orang-orang percaya bahwa menunjukkan emosi mempunyai sesuatu yang harus dilakukan dengan hubungannya dengan seseorang yang mengekspresikan emosi; begitu pula sebaliknya pada Negara-negara yang individual.

EMOTIONAL LABOR
Merupakan suatu situasi yang mana pekerja mengekspresikan emosi keinginan organisasi pada waktu transaksi interpersonal saat bekerja. Emotional labordiperlukan dalam perkerjaan dimana merupakan bagian yang diperlukan selain dari bekerja secara fisik maupun mental. Ketika organisasi ingin kita menampilkan satu emosi tetapi emosi kita sendiri berbeda dari yang diinginkan organisasi, hal tersebut dapat dikatakan sebagai emotional dissonance.

Felt versus displayed emotions
Felt emotions: emosi actual individu.
Displayed emotions: emosi yang organisasi butuhkan dan memerlukan perhatian yang tepat dalam suatu pemberian tugas.
Felt emotion dan displayed emotion bukanlah suatu bawahan sejak lahir, tetapi merupakan sesuatu yang dapat dilatih dan dipelajari. Kebanyakan orang mengalami kesulitan bekerja dengan orang lain karena mereka secara naïf mengasumsikan bahwa emosi yang mereka tampilkan merupakan perasaannya yang sebenarnya, tetapi sebenarnya tidak karena felt emotion dan displayed emotion seringkali berbeda / bertolak belakang. Kebanyakan dari pekerjaan jaman sekarang memerlukan pekerja yang bisa berinteraksi dengan para pelanggan dan terkadang para pelanggan tidak selalu mudah untuk dihadapi. Oleh karena itu, para pekerja perlu melakukan tindakan yang dimana mereka bisa mempertahankan pekerjaannya, yaitu dengan cara: 1. surface acting: menyembunyikan satu perasaan dan tidak jadi mengekspresikan emosi untuk mentaati peraturan, 2. deep acting: berusaha untuk memodifikasi satu perasaan yang sesungguhnya berdasarkan pada peraturan. Tetapi perlu diperhatikan bahwa norma emotional berbeda antar budaya dan pihak management mengharapkan perbedaan emosi antara laki-laki dan perempuan walaupun dalam pekerjaan yang sama.

Are emotionally demanding jobs rewarded with better pay?
Pekerjaan-pekerjaan yang menuntut emosional akan diberi penghargaan lebih rendah daripada pekerjaan-pekerjaan yang menuntut kognitif. Pengarang penelitian menemukan bahwa hubungan antara tuntutan kognitif dan bayaran cukup kuat, sementara hubungan antara tuntutan emosional dan bayaran tidak, sebagai contoh pekerjaan-pekerjaan pengasuh anak dan pelayan.

AFFECTIVE EVENTS THEORY
Merupakan suatu model yang menyatakan bahwa peristiwa-peristiwa dia tempat kerja menyebabkan reaksi-reaksi emosional di bagian karyawan, yang kemudian mempengaruhi sikap dan perilaku di tempat kerja. AET menunjukkan bahwa karyawan bereaksi secara emosional pada hal-hal yang terjadi pada mereka di tempat kerja dan bahwa reaksi ini memengaruhi kinerja dan kepuasan kerja mereka.
Teori AET dimulai dengan mengenali bahwa emosi adalah sebuah respon terhadap peristiwa dalam lingkugan kerja. Lingkungan kerja meliputi semua hal yang melingkupi pekerjaan tersebut-beragam tugas dan tingkat otonomi, tuntutan pekerjaan, dan persyaratan-persyaratan untuk mengekspresikan kerja emosional.
Lingkungan ini menciptakan peristiwa-peristiwa kerja yang dapat berupa percekcokan, kegembiraan atau keduanya.
Peristiwa-peristiwa kerja tersebut memicu aksi reaksi positif atau negatif. Tetapi kepribadian dan suasana hati karyawan mempengauhi mereka untuk merespon peristiwa tersebut dengan intensitas yang lebih besar atau kecil.

EMOTIONAL INTELLIGENCE
Adalah kemampuan seseorang untuk mendeteksi serta mengelola petunjuk-petunjuk dan informasi emosional. EI terdiri atas 5 dimensi:
Kesadaran diri – sadar atas apa yang anda rasakan
Manajemen diri – kemampuan mengelola emosi dan dorongan-dorongan anda sendiri
Motivasi diri – kemampuan bertahan dalam menghadapi kemunduran dan kegagalan
Empati – kemampuan merasakan apa yang dirasakan orang lain
Keterampilan sosial – kemampuan menangani emosi-emosi orang lain.

EI-lah yang mengkarakteristikkan kinerja tinggi seseorang dan bukan IQ. Beberapa kasus yang mendukung EI dalam perilaku organisasi:
Daya tarik intuitif; kemampuan yang dapat mendeteksi emosi orang lain, mengendalikan emosi mereka sendiri dan menangani interaksi sosial dengan baik. Mereka dengan kemampuan tersebut dapat bertahan dalam dunia bisnis
EI meramalkan criteria yang penting; terdapat bukti-bukti yang memperkuat bahwa EI tingkat tinggi mempengaruhi kinerja seseorang menjadi lebih baik dalam pekerjaannya. Berdasarkan tinjauan dari 59 penelitian mengindikasikan bahwa secara keseluruhan, EI berhubungan secara moderat dengan kinerja pada pekerjaan.
EI berbasis biologis; satu penelitian telah menunjukkan bahwa orang–orang dengan kerusakan pada bagian otak yang mengatur pemrosessan emosional mempunyai nilai yang secara signifikan lebih rendah pada ujian-ujian EI. Dengan kerusakan otak yang sama, orang-orang dengan kerusakan otak tersebut mengalami gangguan dalam pengambilan keputusan.

Dan, beberapa kasus yang menentang keberadaan EI dalam perilaku oraganisasi:
EI merupakan konsep yang samar; banyak peneliti yang tidak jelas mengenai apa itu EI. Apakah EI itu suatu bentuk intelegensi? Atau EI hanyalah suatu kekeliruan nama?
EI tidak dapat diukur; karena EI merupakan suatu bentuk tes intelegensi, maka harus terdapat jawaban benar salah. Tetapi validitas dari sejumlah pertanyaan tersebut masih diragukan. Ukuran-ukuran lainnya berupa laporan diri, yang berarti tidak terdapat jawaban benar salah atau dapat juga dikatakan bahwa ukuran EI sangatlah beragam.
Validitas EI masih dipertanyakan.

OB APPLICATIONS OF EMOTIONS AND MOODS
Seleksi; telah makin banyak pemberi kerja mulai menggunakan ukuran-ukuran EI untuk memperkerjakan orang lain, sebagai contoh proses seleksi angkatan udara AS yang menghemat biaya sekitar $3juta dan lebih menjamin bahwa calon yang direkrut yang mempunyai nilai EI yang tinggi akan 2,6 kali lebih berhasil serta memangkas perputaran karyawan dalam 1 tahun sebesar 90%.
Pengambilan keputusan; emosi positif memberikan dampak yang baik dalam pengambilan keputusan dimana emosi positif dapat meningkatkan keterampilan pemecahan masalah serta memahami dan menganalisis informasi baru. Orang-orang dengan mood yang positif atau dengan emosi yang positif akan lebih mungkin membantu mereka menggunakan heuritis / masukan singkat, untuk membantu mereka membuat keputusan yang baik dengan cepat. Tetapi, ketikaseseorang tertekan atau dalam emosi yang negatif, masih belum diketahui apakah emosi negatif tersebut memberikan dampak yang positif atau negatif dalam pengambilan keputusan.
Kreativitas; menurut sejumlah peneliti, orang-orang yang berada dalam suasana hati yang baik lebih kreatif dibandingkan orang-orang yang berada dalam suasana hati yang buruk. Mereka menghasilkan lebih banyak ide, lebih fleksibel dan terbuka dalam pemikiran. Ada juga peneliti lain yang tidak percaya menyatakan bahwa ketika seseorang berada dalam suasana hati yang positif maka mereka akan menjadi rileks dan tidak terlibat pemikiran kritis yang dibutuhkan untuk beberapa bentuk kreativitas, tetapi pernyataan tersebut kontroversial.
Motivasi; memang ada pengaruh dari suasana hati dan emosi pada motivasi dan menyatakan bahwa organisasi-organisasi yang mempromosikan suasana hati positif di tempat kerja lebih berkemungkinan mempunyai angkatan kerja yang lebih termotivasi.
Kepemimpinan; para pemimpin yang efektif mengandalkan daya tarik emosional untuk membantu meyampaikan pesan-pesan mereka. Bahkan, ekspresi emosi dalam pidato sering kali menjadi elemen yang penting untuk membuat seseorang menerima atau menolak pesan seorang pemimpin. “ketika para pemimpin merasa bersemangat, antusias, dan aktif, mereka lebih mungkin untuk memberi energi pada bawahan-bawahan mereka dan menyampaikan rasa efektivitas, kompetensi, optimisme, dan kegembiraan.” Menurut Bono & Ilies (2006) yang menyimpulkan dari penelitiannya tentang “Charisma, positive emotions and mood contagion” yang menyatakan bahwa “pengekspresian emosional seorang pemimpin sangat berperan penting dalam sebuah informasi serta persepsi-persepsi dari bawahannya dalam keefektifan sebuah kepemimpinan.”
Konflik antar personal; konflik yang timbul antar sesame rekan sekerja, dapat dipastikan bahwa emosi akan terlihat. Oleh karena itu, diperlukan manajer yang memiliki kemampuan untuk mengenali elemen emosional dalam konflik dan meminta mereka untuk mengendalikan emosi mereka.
Negosiasi; negosiasi adalah sebuah proses emosional. Pendiri saluran poker Inggris, Cripin Nieboer, menyatakan “itu adalah sebuah permainan gertakan dan terdapat emosi dan ketegangan manusia yang luar biasa, melihat siapa yang menggertak paling lama.” Emosi negatif dapat saja menjadi efektif, tetapi berperasaan buruk terhadap penampilan anda dapat merugikan negosiasi-negosiasi yang akan datang. Negotiator yang buruk mengalami emosi-emosi negatif, mengembangkan persepsi-persepsi negatif atas lawan mereka, dan kurang bersedia berbagi informasi atau bersikap kooperatif dalam negosiasi mendatang. Jadi dapat disimpulkan bahwa ada pengaruh emosi dan suasana hati terhadap negosiasi.
Pelayanan pelanggan; keadaan emosional seorang pekerja memengaruhi pelayanan pelanggan, yang berpengaruh terhadap tingkat pengulangan bisnis dan tingkat kepuasan pelanggan. Pemberian palayanan yang berkualitas kepada pelanggan membuat karyawan menuntut banyak hal karena mereka sering berada dalam situasi disonansi emosional yang dapat menimbulkan kejatuhan fisik atau mental dalam pekerjaan, penurunan kinerja dan rendahnya kepuasan kerja. Selain itu, emosi karyawan dapat juga berpindah kepada pelanggan.
Sikap kerja; beberapa penelitian menunjukkan bahwa orang-orang yang mempunyai hari baik di tempat kerja cenderung berada dalam suasana hati yang lebih baik di rumah pada malamnya, begitu pula sebaliknya jika mengalami hari yang buruk.
Perilaku menyimpang di tempat kerja; emosi-emosi negatif juga dapat membawa sejumlah perilaku menyimpang di tempat kerja.

Sikap manajer: Bagaimana para manajer mempengaruhi suasana hati? Para manajer dapat menggunakan humor dan memberikan penghargaan kecil kepada karyawan sebagai suatu apresiasi, dan juga dengan memilih anggota tim yang memiliki kecenderungan untuk mengalami suasana hati positif sehingga dapat berefek menular kepada anggota tim yang lain.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar