WHAT ARE EMOTIONAL AND MOODS?
Untuk memahami apa itu emosi dan mood, maka kita perlu
mengklarifikasi tentang affect, emotion dan moods. Affect merupakan suatu
istilah umum yang melingkupi suatu lingkup wilayah perasaan yang orang-orang
alami (dapat dialami dalam bentuk emosi atau mood),emotions adalah suatu
perasaan yang kuat yang diarahkan pada seseorang / sesuatu, danmoods adalah
suatu perasaan yang tidak sekuat seperti emosi dan seringkali (walaupun tidak
selalu) tidak memiliki stimulus yang jelas. Emosi dan mood dapat saling
berinteraksi, emosi dapat berubah menjadi mood ketika emosi kehilangan fokus
terhadap kejadian atau benda yang memulai perasaan dan baik atau buruknya mood
bisa membuatmu lebih emosional dalam merespon dari suatu kejadian. Walaupun
emosi dan mood dapat saling berinteraksi tetapi ada perbedaan pada keduanya
Emosi
Disebabkan karena
adanya kejadian yang spesifik
Hanya berlangsung sebentar (dalam beberapa menit atau detik)
Secara alami, berorientasi kepada tindakan
Biasanya didampingi dengan expresi wajah yang berbeda
Secara alami, spesifik dan bervariasi
Mood
Penyebabnya seringkali tidak jelas dan merupakan hal-hal
yang umum
Lebih lama dibandingkan dengan emosi (dalam jam atau hari)
Secara alami, lebih ke kognitif
Secara umum tidak diindikasikan dengan perbedaan ekspresi
Lebih umum
A basic set of emotion
Emosi memiliki banyak variasi, baik itu berupa rasa marah,
iri, benci, bangga, cinta, kebahagiaan, dan lain-lain. Peneliti mencoba untuk
mengidentifikasi dasar-dasar emosi dengan mempelajari ekspresi wajah, tetapi
mengalami kesulitan karena emosi terlalu kompleks untuk diwakilkan dengan
ekspresi wajah. Oleh para peneliti membaginya menjadi 6 emosi essensial yang
universal, yaitu rasa marah, takut, sedih, bahagia, jijik, dan terkejut dimana
emosi lainnya digolongkan kedalam 1 dari 6 kategori tersebut.
Some aspects of emotions
The Biology of Emotion
Semua emosi diorganisasikan oleh system limbic di dalam
otak, yang cuma sebesar walnut dan dekat dengan brain stem. Secara keseluruhan limbic
system menyediakan suatu lensa pemikiran untuk menginterpretasikan sesuatu.
Ketika hal tersebut menjadi aktif, maka individu akan melihat sesuatu melalui
sudut pandang yang negatif; begitu pula sebaliknya, ketika limbic system
menjadi tidak aktif maka individu akan melihat sesuatu melalui sudut pandang
yang lebih positif. Satu orang dengan satu orang yang lain mempunyai limbic
system yang berbeda, sebagai contoh perempuan memiliki kecenderungan mempunyai
limbic system yang lebih aktif dibandingkan dengan laki-laki oleh karena itu
perempuan lebih mudah untuk depresi dibandingkan dengan laki-laki. Tetapi hal
tersebut bukan berarti bahwa semua orang yang depresi adalah perempuan.
Intensity
Setiap orang memiliki intensitas dalam mengekspresikan emosi
yang berbeda satu dengan yang lainnya; begitu pula dalam merespon stimulus
provokasi emosi yang identik. Ada orang yang hampir tidak pernah menunjukkan
perasaannya, tetapi ada juga orang yang sangat emosional. Perbedaan tersebut
disebabkan karena kepribadian dan juga karena hasil dari job requirement.
Frequency and Duration
Pekerja bisa secara sukses menjumpai tuntutan emosional dari
sang pemberi tugas tergantung tidak hanya dari kebutuhan emosional yang harus
ditunjukkan dan intensitasnya tetapi juga seberapa sering dan seberapa lama
yang mereka butuhkan untuk membuat usaha.
Do Emotions Make Us Irrational?
Berdasarkan pada kasus Phineas Gage yang mengalami cedera
otak sehingga tidak memiliki emosi menjadikannya tidak dapat berpikir secara
rasional. Emosi menjadikan seseorang untuk berpikir lebih rasional karena emosi
kita menyediakan informasi penting tentang bangaimana kita memahami dunia di
sekitar kita. Oleh karena itu, kita perlu punya kemampuan untuk mengalami emosi
untuk menjadi rasional. Manusia tanpa emosi tidak akan bekerja / berfungsi
sebagaimana mestiya karena manusia bukanlah komputer. Tetapi, ada penelitian
lain yang menyatakan bahwa emosi dapat membuat seseorang untuk berpikir
rasional, salah satunya adalah Lois Frankel yang menyatakan bahwa lebih baik
perempuan tidak menunjukkan emosinya karena akan melemahkan pandangan orang lain dalam mengukur kompetensinya. Maka
dari itu, kunci untuk mendapatkan keputusan yang baik adalah dengan menjadikan
pemikiran dan perasaan menjadi satu keputusan.
What Functions Do Emotions Serve?
Menurut Charles Darwin beranggapan bahwa “emosi berkembang
dari waktu ke waktu untuk membantu manusia dalam menyelesaikan masalahnya. (…)
emosi juga memotivasi orang untuk memulai tindakan penting untuk bertahan
hidup, seperti mencari perlindungan, memilih pasangan, bertahan dari para
predator, dan lain-lain.” Emosi memiliki tujuan dan emosi tersebut ada untuk
melakukan sesuai dengan tujuannya tersebut, sebagai contoh rasa marah, walaupun
kita berpikir bahwa rasa marah adalah sesuatu yang buruk, tetapi hal tersebut
bisa melindungi hak-hak kita ketika hak-hak kita itu sedang di ”siksa”.
Mood as positive and negative affect
Positive affect: suatu dimensi mood yang di dalamnya
terdapat emosi positif yang spesifik seperti kegairahan, keceriaan, dan
kepercayaan diri di puncak akhir dan kebosanan, dan kelambanan di rendah akhir.
Negative affect: suatu dimensi mood yang di dalamnya
terdapat kecemasan, stress dan kegugupan di puncak akhir dan relaksasi,
kedamaian dan keseimbangan di rendah akhir.
Positive affect dan negative affect bermain dalam hal
pekerjaan yang mewarnai persepsi dan persepsi tersebut menjadi kenyataan bagi
mereka sendiri. Tetapi, orang-orang memikirkan kejadian yang menciptakan emosi
negatif yang kuat sebanyak 5 kali sama panjang dengan memikirkan kejadian yang
menciptakan emosi positif yang kuat sebanyak 1 kali. Sebagai salah satu contoh
jika dikaitkan dengan rewards maka, Individu dengan tingkat PA rendah tidak
akan segera merespon secara positif tingkat rewards yang rendah. Individu
dengan tingkat PA tinggi atau rendah akan lebih terpuasakan dengan tingkat
rewards yang tinggi dibandingkan dengan tingkat rewards yang rendah (shaw,
duffy, Jenkins & gupta, 1999).
Source of emotions and moods
Personality
Kepribadian mempengaruhi setiap orang untuk mengalami mood
dan emosi tertentu, sebagai contoh beberapa merasa bersalah dan marah dalam
keadaan yang lebih siap dibandingkan dengan yang lain. Kebanyakan orang telah
membangun kecenderungan untuk mengalami beberapa mood dan emosi lebih sering
dibandingkan dengan orang lain. Beberapa orang juga memiliki kecenderungan
untuk mengalami emosi apapun dengan lebih kuat, orang-orang tersebut disebut
sebagai affect intensity: perbedaan individu dalam kekuatan emosi yang dialami
oleh oleh individu. Kejadian-kejadian yang positif yang terjadi dapat
mempengaruhi mood untuk menjadi positif dan ber-emosi positif untuk terbuka;
begitu pula kejadian-kejadian negatif yang dapat mempengaruhi mood untuk
menjadi negatif dan ber-emosi negatif bagi mereka yang memiliki nilai rendah
pada stabilitas emosional.
Day of the week and time of the day
Orang-orang memiliki kecenderungan berada pada mood yang
terburuk saat berada pada awal minggu dan dalam mood yang terbaik ketika berada
di akhir minggu. Mengapa hal tersebut terjadi? Hal ini dikarenakan ketika
berada di awal minggu, orang-orang akan mulai berkerja/sekolah dan di akhir
minggu, orang-orang akan mulai berhenti bekerja di akhir minggu. Begitu pula
ketika seseorang akan memulai 1 harinya, mereka akan memulai hari dengan
keadaan yang tidak semangat, dan pada pertengahan hari, mood kita menjadi
meningkat dan menurun pada sore hari.
Weather
Cuaca memiliki efek yang kecil untuk mempengaruhi mood.
Kesimpulan dari seorang ahli yang menyatakan bahwa “kebalikkan dengan sudut
pandang budaya secara umum, data-data ini mengindikasikan bahwa orang-orang
tidak melaporkan mood yang lebih baik pada hari yang cerah dan bercahaya.”
Kejadian tersebut disebut dengan illusory correlation: kecenderungan orang
untuk mengasosiasikan 2 kejadian walaupun dalam kenyataannya tidak ada koneksi
antara keduanya.
Stress
Stres mempengaruhi emosi dan mood, dan efek dari stress
bertambah tiap waktunya. Ketika stress tersebut sudah menjadi besar dapat
memperburuk mood dan akan lebih mengalami emosi negatif.
Social activities
Untuk beberapa orang, aktivitas sosial meningkatkan mood
yang positif dan memiliki sedikit efek terhadap mood yang negatif. Peneliti
menyarankan bahwa kegiatan-kegiatan fisik, informal, atau epicurenberasosiasi
kuat dengan pertambahan mood yang positif dibandingkan dengan kegiatan-kegiatan
formal atau kegiatan-kegiatan yang menetap.
Sleep
Kualitas tidur seseorang juga dapat mempengaruhi mood
seseorang. Ketika seseorang kekurangan kualitas tidur, menempatkan dirinya
kedalam mood yang buruk karena hal tersebut merusak pengambilan keputusan dan
membuat sulit dalam mengontrol emosi.
Exercise
Peneliti secara konsisten menunjukkan bahwa latihan
memperkuat mood positif orang-orang. Efek terapi dari latihan paling kuat
didapat bagi mereka yang mengalami depresi. Walaupun efek dari latihan
konsisten, tetapi tidak terlalu kuat.
Age
Suatu penelitian pada orang yang berusia 18 – 94 tahun,
menunjukkan bahwa emosi negatif semakin berkurang muncul ketika orang menjadi
tua. Jangka waktu pada mood positif lebih lama ada pada orang yang lebih tua
dan mood yang buruk lebih cepat hilang. Dan pada orang yang lebih tua mengalami
lebih sedikit emosi negatif.
Gender
Adanya bukti-bukti yang menunjukkan bahwa ada perbedaan
antara perempuan dan laki-laki dalam hal reaksi emosional dan kemampuan dalam
membaca orang lain. Perempuan lebih hebat dalam menunjukkan ekspresi
emosionalnya dibandingkan dengan laki-laki. Mereka mengekspresikan emosi lebih
kuat; dan mereka lebih sering mengekspresikan emosi baik itu emosi positif
maupun negatif, kecuali rasa marah. Perempuan juga melaporkan lebih nyaman
dalam mengekspresikan emosi. Perempuan juga lebih baik dalam membaca
tanda-tanda nonverbal dan paralinguistic dibandingkan dengan laki-laki. Mengapa
hal tersebut bisa terjadi? Peneliti menyatakan 3 kemungkinan. Pertama, cara
laki-laki dan perempuan disosialisasikan, jika laki-laki diajarkan untuk
menjadi berani dan kuat maka sebaliknya pada perempuan yang diajarkan untuk
bisa mengasuh / memelihara.
External constraints on emotions
Organizational influence
Ekspresi dari emosi yang kuat yang apapun itu, baik negatif
maupun positif, cenderung untuk tidak dapat diterima karena pihak management
menganggap bahwa emosi-emosi tersebut dapat merusak performa dari tugas-tugas
rutin yang ada.
Cultural influence
Tingkat orang mengalami emosi berbeda antara satu orang
dengan orang yang lain. Secara umum, orang-orang dalam kebanyakan budaya tampil
untuk mengalami emosi positif dan negatif tertentu, tetapi frekuensi dari
pengalaman dan intensitas, berbeda satu dengan yang lain. Orang-orang dari
berbagai daerah dan wilayah memiliki pandangan yang sama dalam
menginterpretasikan emosi baik itu positif maupun negatif. Norma yang berlaku
dalam setiap daerah mempengaruhi pengekspresian emosi pada setiap orang. Di
negara-negara yang kolektif, orang-orang percaya bahwa menunjukkan emosi
mempunyai sesuatu yang harus dilakukan dengan hubungannya dengan seseorang yang
mengekspresikan emosi; begitu pula sebaliknya pada Negara-negara yang
individual.
EMOTIONAL LABOR
Merupakan suatu situasi yang mana pekerja mengekspresikan
emosi keinginan organisasi pada waktu transaksi interpersonal saat bekerja.
Emotional labordiperlukan dalam perkerjaan dimana merupakan bagian yang
diperlukan selain dari bekerja secara fisik maupun mental. Ketika organisasi
ingin kita menampilkan satu emosi tetapi emosi kita sendiri berbeda dari yang
diinginkan organisasi, hal tersebut dapat dikatakan sebagai emotional
dissonance.
Felt versus displayed emotions
Felt emotions: emosi actual individu.
Displayed emotions: emosi yang organisasi butuhkan dan
memerlukan perhatian yang tepat dalam suatu pemberian tugas.
Felt emotion dan displayed emotion bukanlah suatu bawahan
sejak lahir, tetapi merupakan sesuatu yang dapat dilatih dan dipelajari.
Kebanyakan orang mengalami kesulitan bekerja dengan orang lain karena mereka
secara naïf mengasumsikan bahwa emosi yang mereka tampilkan merupakan
perasaannya yang sebenarnya, tetapi sebenarnya tidak karena felt emotion dan
displayed emotion seringkali berbeda / bertolak belakang. Kebanyakan dari
pekerjaan jaman sekarang memerlukan pekerja yang bisa berinteraksi dengan para
pelanggan dan terkadang para pelanggan tidak selalu mudah untuk dihadapi. Oleh
karena itu, para pekerja perlu melakukan tindakan yang dimana mereka bisa
mempertahankan pekerjaannya, yaitu dengan cara: 1. surface acting:
menyembunyikan satu perasaan dan tidak jadi mengekspresikan emosi untuk
mentaati peraturan, 2. deep acting: berusaha untuk memodifikasi satu perasaan
yang sesungguhnya berdasarkan pada peraturan. Tetapi perlu diperhatikan bahwa
norma emotional berbeda antar budaya dan pihak management mengharapkan
perbedaan emosi antara laki-laki dan perempuan walaupun dalam pekerjaan yang
sama.
Are emotionally demanding jobs rewarded with better pay?
Pekerjaan-pekerjaan yang menuntut emosional akan diberi
penghargaan lebih rendah daripada pekerjaan-pekerjaan yang menuntut kognitif.
Pengarang penelitian menemukan bahwa hubungan antara tuntutan kognitif dan bayaran
cukup kuat, sementara hubungan antara tuntutan emosional dan bayaran tidak,
sebagai contoh pekerjaan-pekerjaan pengasuh anak dan pelayan.
AFFECTIVE EVENTS THEORY
Merupakan suatu model yang menyatakan bahwa
peristiwa-peristiwa dia tempat kerja menyebabkan reaksi-reaksi emosional di
bagian karyawan, yang kemudian mempengaruhi sikap dan perilaku di tempat kerja.
AET menunjukkan bahwa karyawan bereaksi secara emosional pada hal-hal yang
terjadi pada mereka di tempat kerja dan bahwa reaksi ini memengaruhi kinerja
dan kepuasan kerja mereka.
Teori AET dimulai dengan mengenali bahwa emosi adalah sebuah
respon terhadap peristiwa dalam lingkugan kerja. Lingkungan kerja meliputi
semua hal yang melingkupi pekerjaan tersebut-beragam tugas dan tingkat otonomi,
tuntutan pekerjaan, dan persyaratan-persyaratan untuk mengekspresikan kerja
emosional.
Lingkungan ini menciptakan peristiwa-peristiwa kerja yang
dapat berupa percekcokan, kegembiraan atau keduanya.
Peristiwa-peristiwa kerja tersebut memicu aksi reaksi positif
atau negatif. Tetapi kepribadian dan suasana hati karyawan mempengauhi mereka
untuk merespon peristiwa tersebut dengan intensitas yang lebih besar atau
kecil.
EMOTIONAL INTELLIGENCE
Adalah kemampuan seseorang untuk mendeteksi serta mengelola
petunjuk-petunjuk dan informasi emosional. EI terdiri atas 5 dimensi:
Kesadaran diri – sadar atas apa yang anda rasakan
Manajemen diri – kemampuan mengelola emosi dan
dorongan-dorongan anda sendiri
Motivasi diri – kemampuan bertahan dalam menghadapi
kemunduran dan kegagalan
Empati – kemampuan merasakan apa yang dirasakan orang lain
Keterampilan sosial – kemampuan menangani emosi-emosi orang
lain.
EI-lah yang mengkarakteristikkan kinerja tinggi seseorang
dan bukan IQ. Beberapa kasus yang mendukung EI dalam perilaku organisasi:
Daya tarik intuitif; kemampuan yang dapat mendeteksi emosi
orang lain, mengendalikan emosi mereka sendiri dan menangani interaksi sosial
dengan baik. Mereka dengan kemampuan tersebut dapat bertahan dalam dunia bisnis
EI meramalkan criteria yang penting; terdapat bukti-bukti
yang memperkuat bahwa EI tingkat tinggi mempengaruhi kinerja seseorang menjadi
lebih baik dalam pekerjaannya. Berdasarkan tinjauan dari 59 penelitian
mengindikasikan bahwa secara keseluruhan, EI berhubungan secara moderat dengan
kinerja pada pekerjaan.
EI berbasis biologis; satu penelitian telah menunjukkan
bahwa orang–orang dengan kerusakan pada bagian otak yang mengatur pemrosessan
emosional mempunyai nilai yang secara signifikan lebih rendah pada ujian-ujian
EI. Dengan kerusakan otak yang sama, orang-orang dengan kerusakan otak tersebut
mengalami gangguan dalam pengambilan keputusan.
Dan, beberapa kasus yang menentang keberadaan EI dalam
perilaku oraganisasi:
EI merupakan konsep yang samar; banyak peneliti yang tidak
jelas mengenai apa itu EI. Apakah EI itu suatu bentuk intelegensi? Atau EI
hanyalah suatu kekeliruan nama?
EI tidak dapat diukur; karena EI merupakan suatu bentuk tes
intelegensi, maka harus terdapat jawaban benar salah. Tetapi validitas dari
sejumlah pertanyaan tersebut masih diragukan. Ukuran-ukuran lainnya berupa
laporan diri, yang berarti tidak terdapat jawaban benar salah atau dapat juga
dikatakan bahwa ukuran EI sangatlah beragam.
Validitas EI masih dipertanyakan.
OB APPLICATIONS OF EMOTIONS AND MOODS
Seleksi; telah makin banyak pemberi kerja mulai menggunakan
ukuran-ukuran EI untuk memperkerjakan orang lain, sebagai contoh proses seleksi
angkatan udara AS yang menghemat biaya sekitar $3juta dan lebih menjamin bahwa
calon yang direkrut yang mempunyai nilai EI yang tinggi akan 2,6 kali lebih
berhasil serta memangkas perputaran karyawan dalam 1 tahun sebesar 90%.
Pengambilan keputusan; emosi positif memberikan dampak yang
baik dalam pengambilan keputusan dimana emosi positif dapat meningkatkan
keterampilan pemecahan masalah serta memahami dan menganalisis informasi baru.
Orang-orang dengan mood yang positif atau dengan emosi yang positif akan lebih
mungkin membantu mereka menggunakan heuritis / masukan singkat, untuk membantu
mereka membuat keputusan yang baik dengan cepat. Tetapi, ketikaseseorang
tertekan atau dalam emosi yang negatif, masih belum diketahui apakah emosi
negatif tersebut memberikan dampak yang positif atau negatif dalam pengambilan
keputusan.
Kreativitas; menurut sejumlah peneliti, orang-orang yang
berada dalam suasana hati yang baik lebih kreatif dibandingkan orang-orang yang
berada dalam suasana hati yang buruk. Mereka menghasilkan lebih banyak ide,
lebih fleksibel dan terbuka dalam pemikiran. Ada juga peneliti lain yang tidak
percaya menyatakan bahwa ketika seseorang berada dalam suasana hati yang
positif maka mereka akan menjadi rileks dan tidak terlibat pemikiran kritis
yang dibutuhkan untuk beberapa bentuk kreativitas, tetapi pernyataan tersebut
kontroversial.
Motivasi; memang ada pengaruh dari suasana hati dan emosi
pada motivasi dan menyatakan bahwa organisasi-organisasi yang mempromosikan
suasana hati positif di tempat kerja lebih berkemungkinan mempunyai angkatan
kerja yang lebih termotivasi.
Kepemimpinan; para pemimpin yang efektif mengandalkan daya
tarik emosional untuk membantu meyampaikan pesan-pesan mereka. Bahkan, ekspresi
emosi dalam pidato sering kali menjadi elemen yang penting untuk membuat
seseorang menerima atau menolak pesan seorang pemimpin. “ketika para pemimpin
merasa bersemangat, antusias, dan aktif, mereka lebih mungkin untuk memberi
energi pada bawahan-bawahan mereka dan menyampaikan rasa efektivitas,
kompetensi, optimisme, dan kegembiraan.” Menurut Bono & Ilies (2006) yang
menyimpulkan dari penelitiannya tentang “Charisma, positive emotions and mood
contagion” yang menyatakan bahwa “pengekspresian emosional seorang pemimpin
sangat berperan penting dalam sebuah informasi serta persepsi-persepsi dari
bawahannya dalam keefektifan sebuah kepemimpinan.”
Konflik antar personal; konflik yang timbul antar sesame
rekan sekerja, dapat dipastikan bahwa emosi akan terlihat. Oleh karena itu,
diperlukan manajer yang memiliki kemampuan untuk mengenali elemen emosional
dalam konflik dan meminta mereka untuk mengendalikan emosi mereka.
Negosiasi; negosiasi adalah sebuah proses emosional. Pendiri
saluran poker Inggris, Cripin Nieboer, menyatakan “itu adalah sebuah permainan
gertakan dan terdapat emosi dan ketegangan manusia yang luar biasa, melihat
siapa yang menggertak paling lama.” Emosi negatif dapat saja menjadi efektif,
tetapi berperasaan buruk terhadap penampilan anda dapat merugikan
negosiasi-negosiasi yang akan datang. Negotiator yang buruk mengalami
emosi-emosi negatif, mengembangkan persepsi-persepsi negatif atas lawan mereka,
dan kurang bersedia berbagi informasi atau bersikap kooperatif dalam negosiasi
mendatang. Jadi dapat disimpulkan bahwa ada pengaruh emosi dan suasana hati
terhadap negosiasi.
Pelayanan pelanggan; keadaan emosional seorang pekerja
memengaruhi pelayanan pelanggan, yang berpengaruh terhadap tingkat pengulangan
bisnis dan tingkat kepuasan pelanggan. Pemberian palayanan yang berkualitas
kepada pelanggan membuat karyawan menuntut banyak hal karena mereka sering
berada dalam situasi disonansi emosional yang dapat menimbulkan kejatuhan fisik
atau mental dalam pekerjaan, penurunan kinerja dan rendahnya kepuasan kerja.
Selain itu, emosi karyawan dapat juga berpindah kepada pelanggan.
Sikap kerja; beberapa penelitian menunjukkan bahwa
orang-orang yang mempunyai hari baik di tempat kerja cenderung berada dalam
suasana hati yang lebih baik di rumah pada malamnya, begitu pula sebaliknya
jika mengalami hari yang buruk.
Perilaku menyimpang di tempat kerja; emosi-emosi negatif
juga dapat membawa sejumlah perilaku menyimpang di tempat kerja.
Sikap manajer: Bagaimana para manajer mempengaruhi suasana
hati? Para manajer dapat menggunakan humor dan memberikan penghargaan kecil
kepada karyawan sebagai suatu apresiasi, dan juga dengan memilih anggota tim
yang memiliki kecenderungan untuk mengalami suasana hati positif sehingga dapat
berefek menular kepada anggota tim yang lain.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar